Monday, February 15, 2016

Potensi Umbur-Ubur dan Dinamikanya

Ubur–ubur merupakan binatang laut dengan bentuk seperti cendawan, badannya mirip agar-agar, memiliki struktur tembus pandang, tentakel yang berjuntai dari bagian bawah tubuhnya serta hampir 90 persen terdiri dari air. Berat seekor ubur-ubur dapat mencapai 10 kg dan mudah ditemui dilaut karena  melayang 1-2 meter dari permukaan laut. Ubur-ubur dapat hidup di hampir segala iklim. Jenis ubur-ubur yang dikenal di Indonesia terdiri dari empat jenis yaitu Aurelia aurita, Cassiopeia xamacha, Mastigias papua dan Tripedalia cyctophora. Ubur-ubur biasanya selalu dihindari orang karena dapat menyebabkan gatal-gatal bagi yang menyentuhnya, namun ternyata memiliki harga jual yang tinggi dan selalu ditunggu kemunculannya oleh nelayan pada musim kemarau.
Sentra produksi ubur-ubur di Indonesia banyak terdapat di wilayah perairan Cilacap, perairan Kebumen, perairan Tanjung Jabung Barat Jambi, perairan Prigi Trenggalek, Danau Kakaban Perairan Berau Kalimantan Timur, kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan,  perairan Muncar Banyuwangi, perairan Alor Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Teluk Kao Halmahera Utara, perairan Bacan Halmahera Selatan Kepulauan Maluku dan Kepulauan Riau, perairan Panimbang Banten dan pantai Gunung Kidul Yogyakarta. Produksi ubur-ubur dibeberapa daerah antara lain di Tanjung Jabung Barat Jambi tahun 2004 sekitar 150 ton, di Kalimantan Selatan tahun 2005 sekitar 63,8 ton, di pantai Prigi Trenggalek  pada tahun 2005 mencapai 1.245 ton dan di Lumajang tahun 2006 sekitar 100 ton.  
Sementara itu, volume ekspor ubur-ubur dari propinsi Jawa Timur pada tahun 2004 mencapai 1.163 ton dengan nilai US$ 986.163, sedangkan tahun 2005 mencapai 421,126 ton dengan nilai US$ 513.855.  Ekspor ubur-ubur dari Jambi ke Malaysia dan Singapura pada tahun 2006 mencapai 3,750 ton dengan nilai US$ 18.750, sementara itu ekspor ubur-ubur dari Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan ke negara Hongkong dan Taiwan pada tahun 2006 mencapai 40 ton dan tahun 2007 mencapai 50 ton.  
Menurunnya intensitas hujan  telah  menjadikan  ubur-ubur banyak bermunculan  di berbagai daerah termasuk  sekitar perairan pantai Cilacap. Musim ubur-ubur di Cilacap biasanya terjadi pada bulan September–Nopember, sehingga banyak nelayan mengalihkan tangkapan dari ikan ke ubur-ubur. Cilacap merupakan salah satu wilayah pesisir selatan pulau Jawa yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia sehingga memiliki potensi perikanan yang cukup besar diantaranya adalah ubur-ubur yang muncul satu tahun sekali.  
Nelayan di wilayah Cilacap menangkap ubur-ubur dengan menggunakan perahu jenis fiber dan compreng yang dilengkapi dengan alat tangkap jaring, sedangkan pada saat puncak nelayan menangkap ubur-ubur hanya dengan menggunakan gayung. Satu perahu fiber dapat mengangkut sekitar 1 (satu) ton ubur-ubur, sedangkan perahu jenis compreng dapat mengangkut 2-3 ton. Dalam satu hari, nelayan dapat  melaut  dua sampai tiga kali, hal ini karena lokasi tangkapannya berada disekitar perairan pantai seperti pantai Jetis, Binangun, Srandil, Teluk Penyu, Logending dan Nusakambangan.
Pada saat musim puncak, hasil tangkapan ubur-ubur basah dari nelayan Cilacap dapat  mencapai sekitar 500-800 ton per hari. Tingginya produksi ubur-ubur di Cilacap telah menguntungkan nelayan, pekerja pengolah ubur-ubur, para kuli bongkar dan pedagang musiman yang berjualan disekitar lokasi bongkar maupun pabrik pengolah ubur-ubur.
Proses pengolahan ubur-ubur basah menjadi ubur-ubur kering yang siap ekspor banyak dilakukan oleh pedagang pengumpul dan pengolah ubur-ubur di Cilacap dengan jumlah  sekitar 10 pengusaha. Pengeringan ubur-ubur yang siap ekspor adalah dimulai dengan perendaman ubur-ubur basah dengan air selama beberapa hari untuk menghilangkan lendir dan racun. Setelah itu, dilakukan pemisahan antara kaki dengan topi ubur-ubur; pencucian dengan menggunakan tawas; pemberian garam; kemudian peletakan pada rak dan penutupan dengan karung sampai kering. Proses pengolahan ubur-ubur basah sampai menjadi kering dapat berlangsung 7 hari, sedangkan untuk ubur-ubur yang setengah kering (SK) sekitar 5 hari. Dari berat kaki ubur-ubur sebesar 1 kg  basah setelah dilakukan pengeringan tinggal 6-7 % (60-70 gram) dari berat awal, sedangkan rendemen  topi ubur-ubur kering  sekitar 3- 4 %  dari berat awal.
            Ubur-ubur basah hasil tangkapan nelayan dijual ke pedagang pengumpul dan pengolah dengan harga sekitar Rp. 600,- /kg - Rp. 800 ,-/kg untuk ubur-ubur muda, sementara untuk ubur-ubur yang tua harganya sekitar Rp. 1.000,-/kg – Rp. 1.500,-/kg.   Ubur-ubur yang telah dikeringkan, biasanya di pasarkan ke pengekspor yang berada di sekitar Cilacap maupun ke Jakarta dan kemudian dilakukan ekspor ke Jepang, Taiwan, China, Korea, Hongkong dan Singapura. Di negara pengimpor, ubur-ubur banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat-obatan dan kosmetik. Harga ubur-ubur kering ditingkat pengekspor dapat mencapai Rp. 30.000,- /kg, sementara untuk yang setengah kering dapat mencapai Rp. 28.000,-/kg.
Permasalahan yang dihadapi selama ini adalah penduduk yang tinggal disekitar lokasi pengolahan sering mengeluhkan bau busuk yang bersumber dari pabrik ubur – ubur. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah daerah setempat cukup bijaksana yakni melalui pertemuan antara pengusaha dengan penduduk. Disatu sisi penduduk membutuhkan lapangan kerja, namun disisi lain merekapun tidak nyaman hidup dengan bau busuk yang menyengat. Untuk itu sementara diputuskan agar pengusaha hanya mengolah ubur – ubur setengah jadi hingga produk akhir. Artinya, pengolahan awal dilakukan di lokasi lain yang jauh dari pemukiman penduduk.
Teknologi yang digunakan untuk pengolahan ubur-ubur ini cukup sederhana dan tidak memerlukan investasi yang besar, jumlah tenaga kerja tersedia dengan  upah yang relative masih rendah sesuai dengan pendidikan dan keterampilan yang diperlukan, dan permintaan pasar domestik maupun inetrnasional cukup besar, sehingga usaha dibidang pengolahan ubur-ubur ini mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan.

Budidaya kerang hijau









Kerang hijau merupakan salah satu komoditi perikanan yang sudah lama dikenal sebagai sumber protein hewani yang relatif murah, selain kerang bulu dan kerang darah.  Harga daging kerang hijau di pasaran sekitar Rp. 15.000,- /kg dengan kandungan gizi antara lain : protein 18,3%, karbohidrat 2%, lemak, 0,45%, air 78%, dan beberapa mineral yaitu kalsium 133 mg dan fosfor 170 mg.   Kerang hijau hidup pada perairan payau sampai asin yang memiliki sifat menempel pada benda-benda yang ada di sekitarnya.  Kerang hijau yang baik memiliki daging berwarna kuning kecoklatan, sedangkan  ciri khas dari kerang hijau yang masih hidup adalah  akan segera menutupkan kedua cangkangnya apabila disentuh.
Budidaya kerang hijau telah banyak dilakukan pada wilayah Kecamatan Cilincing Jakarta Utara, Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat dan Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten. Pada saat musim, produksi kerang hijau di Kecamatan Cilincing  dapat mencapai 240 ton per hari, sedangkan pada hari biasa produksinya mencapai 54 ton per hari. Di Kabupaten Cirebon, menurut data Dinas Perikanan dan Kelautan  Kabupaten Cirebon bahwa produksi kerang mengalami peningkatan sekitar 3,88 %  dari 9.644 ton pada tahun 2004 menjadi 10.032 ton pada tahun 2006.
Kecamatan Panimbang merupakan salah satu lokasi budidaya kerang hijau yang potensial karena di wilayah tersebut perairan masih belum tercemar oleh limbah industri dan relatif aman dari angin barat yang merupakan kendala utama dalam budidaya kerang. Luas areal budidaya kerang hijau di Kecamatan Panimbang ± 100 ha dengan jumlah bagan ± 50 unit. Kerang hijau dapat dibudidayakan selama 6 bulan, mulai dari penempelan benih sampai dengan panen. Di Kecamatan Panimbang, budidaya kerang hijau dimulai pada tahun 2003 yang terbagi menjadi 3 lokasi yaitu Cipaton, Panimbang Jaya dan Sidamukti. Pembudidaya kerang hijau di Kecamatan Panimbang, tergabung dalam kelompok tani sebanyak 10 kelompok yang tiap anggotanya terdiri dari 5 pembudidaya. Produksi kerang hijau dari Kecamatan Panimbang per musim  panen dapat mencapai 300  ton. Pemasaran kerang hijau hasil produksi dari Kecamatan Panimbang dilakukan ke wilayah Jakarta dan Tangerang.
Pengolahan kerang hijau banyak dilakukan di wilayah Kelurahan Kalibaru Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Jumlah pengolah kerang hijau di Kelurahan Kalibaru sekitar 60 pengolah.  Pada saat musim panen, jumlah kerang hijau yang diolah dalam satu hari  dapat mencapai 100 karung per pengolah, dimana 1 karung berisi 40 kg kerang hijau. Musim Kerang hijau biasanya terjadi pada bulan Juni-Oktober. Harga kerang hijau per ember di tingkat nelayan  sekitar Rp. 10.000,- /kg, sedangkan di tingkat pedagang mencapai Rp. 15.000,- /kg.
 Proses pengolahan kerang meliputi pemisahan  kerang dari kotoran yang ada, kemudian pencucian kerang sampai bersih, perebusan dengan menggunakan kompor selama 1-1,5 jam dan pengupasan kerang untuk mengeluarkan dagingnya. Jenis olahan kerang yang ada di pasaran terbagi menjadi dua yaitu olahan kerang yang sudah dikupas dan olahan   rebusan kerang yang masih terdapat cangkang.
Pemasaran   kerang yang telah dikupas cangkangnya biasanya dilakukan ke Pasar Muara Baru dengan volume penjualan daging kerang pada saat musim  mencapai 20-30 ton per malam, sedangkan pemasaran olahan kerang yang masih terdapat cangkang dilakukan oleh pedagang  dengan menggunakan gerobak keliling ke wilayah Jakarta. Utara dan Jakarta Timur dengan jumlah pedagang sekitar 500 pedagang. Pemasaran kerang yang masih mentah dari Kecamatan Cilincing  Jakarta Utara biasanya di pasarkan ke pasar tradisional yang ada di Jakarta, Tangerang, Bandung dan Cirebon.
Kerang dipanen nelayan saat berumur enam bulan. Di Jakarta, kerang biasa dipelihara di Teluk Jakarta. Binatang bernama ilmiah Anadara granosa ini biasanya langsung direbus dengan air laut usai dipanen. Setelah matang, kerang diturunkan dari tong perebusan untuk kemudian dikupas dari kulitnya. Puluhan pekerja kemudian melepaskan daging dari kulit kerang untuk diolah lebih lanjut. Hingga tahap ini tak ada masalah dengan pengolahan. Semua berjalan baik dan tak ada peran bahan kimia beracun. Kerang yang sudah dicabuti ini belum dibersihkan dari kotoran yang menempel. Pembersihan akan dilakukan setelah satu tong penuh kerang atau sekitar seratus kilogram.

Friday, January 8, 2016

INDUSTRI BIOTEKNOLOGI KELAUTAN



INDUSTRI BIOTEKNOLOGI KELAUTAN

 

Indonesai sebagai neara kepulauan memiliki biodiversitas perairan yang melimpah yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi industri dan jasa di bidang bioteknologi.
Saat ini berbagai produk bioteknologi yang menggunakan bahan baku marine added value yang tinggi. Berbagai produk seperti obat-obatan, enzim untuk keperluan industri telah membanjiri indonesia. Bioteknologi kelautan untuk farmasi, kosmetik, pangan, pakan dan produk  non konsumtif, memiliki peluang yang sangat besar untuk mengisi kebutuhan lokal dan internasional.
Industri bioteknologi kelautan belum begitu berkembang di Indonesia, meskipun beberapa perusahaan telah menggali potensinya secara komersil. Potensi sumberdaya hayati perairan untuk industri bioteknologi kelautan meliputi : 1) industri bioproses yaitu proses yang memanfaatkan organisme untuk menghasilkan berbagai produk dan jasa seperti bioenergi dari rumput laut dan mikroalga  2) Industri budidaya organisme perairan dan turunannya, seperti budidaya rumput laut untuk bahan obat dan kosmetik 3) Industri pengujian bahan-bahan berbahaya pada produk seafood melalui metode bioteknologi untuk meningkatkan keamanan dan daya saing ekspor 4) dan lain sebagainya.
Pengembangan industri bioenergi dari organisme perairan seperti biodisel dan bioetanol dari rumput laut dan limbah industri sampai saat ini masih dalam tahap penelitian, meskipun potensi pengembangannya sangat besar karena indonesia memiliki keragaman mikroalga yang tinggi dan sumber nutrisi yang melimpah dari limbah industri dan cahaya matahari sepanjang tahun.
Isu penting dan strategis yang dihadapi indonesia untuk menciptakan dan membangun industri dan jasa di bidang bioteknologi kelautan antara lain :
1.      Eksplorasi sumberdaya perairan untuk industri bioteknologi tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan
2.      Kurangnya pemahaman tentang bioteknologi kelautan oleh yang instansi terkait
3.      Belum adanya aturan yang jelas dalam implementasi dan pengembangan industri bioteknologi kelautan
4.      Belum terbentuknya kemitraan yang ekstensif antara lembaga riset dengan dunia usaha
Kedepan industri dan jasa bioteknologi berbasis kelautan yang berkelanjutan akan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan kemandirian bangsa dengan menyikapi dan menindak lanjuti issu penting di atas.

Menyiasati Buramnya Nasib Masyarakat Pesisir



 

Menyiasati Buramnya Nasib Masyarakat Pesisir

Studi kasus di Pesisir Kab.Langkat, Prov. Sumatera Utara

 

Sepertinya kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat pesisir adalah lagu lama yang tak dapat dielakkan disepanjang sejarah berdirinya republik Indonesia hingga bergulirnya era reformasi, rintihan pilu masyarakat pesisir tidak jua kunjung reda. Padahal mungkin kita masih teringat akan lagu ’nenek moyangku seorang pelaut’, yang mana dapat mengingatkan kita akan potensi laut kita yang sedemikian kaya. Semestinya bangsa ini berbangga diri memiliki masyarakat yang rela mencurahkan hidup dan matinya untuk mengelola sumber daya pesisir dan laut. Mengingat pembangunan pesisir dan laut bagi bangsa ini merupakan mudal besar dan peluang lebar untuk menuju persaingan ekonomi global. Dengan memberdayakan masyarakat pesisir dari kemiskinan dan keterbelakangan adalah langkah yang sangat mendasar dalam tahap awal pembangunan pesisir dan laut kita.
Namun, pada kenyataannya langkah tersebut belum menunjukkan sinyal yang pasti. Kurangnya akses pendidikan (menyebabkan banyak anak-anak yang tidak bersekolah), kesehatan serta akses lainnya bagi masyarkat pesisir adalah suatu pertanda bahwa nasib mereka masih berada dalam ketidak jelasan, sehingga akibatnya sumber daya masyarakat (SDM) yang mereka miliki sangat minim dalam mengelola kekayaan laut yang melimpah. Bukannya mereka tidak memiliki usaha yang keras dan keinginan yang gigih dalam memajukan sosial-ekonominya. Tapi, karena keterbatasan pendidikan, informasi dan teknologi yang membuat mereka harus menerima apa adanya dan terbatas dalam berkreasi menjalankan profesinya. Mutu SDM yang rendah membuat mereka tidak begitu paham memanajemen setiap pendapatan mereka dan mengalokasikan seperlunya.
Pentingnya perhatian berbagai pihak, baik itu konsultan pemberdayaan, aktivis LSM, peneliti, politisi, dan khususnya para penentu kebijakan untuk  menguak nasib buram masyarakat pesisisir  tersebut. Sebab, di akui atau pun tidak keterpurukan masyarakat pesisir kurang begitu diwacanakan atau dimunculkan kepermukaan, entah karena letak giografisnya yang terisolir, atau karena tertutup oleh permasalahan-permaalahan aktual yang bersifat sementara, sehingga berbagai pihak melupakan masyarakat yang terpinggirkan; masyarakat yang telah lama menahan sakit berkepanjangan.
Kepedihan mayarakat pesisir sering sekali diombang-ambing keadaan bangsa yang tidak menentu, di mana pada kenyataannya mereka adalah korban dari kebusukan pikir para pemimpin, hingga masyarakat pesisir harus menderita dalam waktu yang berkepanjangan. Terkadang masyarakatnya memiliki keinginan besar untuk terus mengembangkan kegiatan pembangunan sosial-ekonomi wilayahnya, namun untuk mewujudkan keinginan tersebut terdapat berbagai hambatan besar yang dicipciptakan dari kesalahan sejarah. Jadi seperti masyarakat pesisir Kab. Langkat, Sumatera Utara saat ini tidak berposisi sebagai penerima warisan, melainkan bagaimana mereka mencipta dan memberikan warisan untuk anak cucu mereka kelak, seperti sumberdaya ikan yanga ada, fasilitas jalan raya, infrastruktur ekonomi perikanan, sarana penangkapan ikan, tehnik budidaya ikan, fasilitas umum-sosial, dan seterusnya. Kerusakan ekosistem yang ada juga menggambarkan tidak menjanjikannya lagi keberlanjutan sumberdaya perikanan kelautan yang optimal lestari ke depan.
Realitas seperti ini tidak hanya terjadi di wilayah Kab. Langkat, Sumatera Utara, tapi hal yang sama juga banyak terjadi dipelbagai wilayah pesisir lainnya. Kelemahan-kelemahan tersebut biasanya terletak pada terbatasnya sarana dan prasarana ekonomi, rendahnya kualitas SDM, teknologi penangkapan ikan yang terbatas kapasitasnya, akses mudal dan pasar produk ekonomi lokal yang terbatas, tidak adanya kelembagaan sosial-ekomi yang dapat membangun masyarakat dan belum adanya komitmen pembangunan kawasan pesisir secara terpadu.
Strategi
Berangkat dari berbagai kelemahan masyarak pesisir itulah, perlu adanya tujuan program pemberdayaan yang lebih menitik-beratkan pada upaya memperkuat kedudukan dan fungsi kelembagaan sosial-ekonomi masyarakat pesisir untuk mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan. Adapun ruang lingkupnya antara lain, (1) memitakan sumber daya pembangunan wilayah yang dapat dijadikan basis data perencanaan kebijakan pembanguanan dan investai ekonomi, (2) meningkatkan kemampuan manajemen organisasi dan kualitas wawasan para pengurusnya, (3) mengembangkan produk unggulan yang berbasis pada potensi sumber daya lokal, seperti terasi, kerupuk ikan, hasil olahan hasil perikanan yang heginis dan benilai jual tinggi, (4) melaksanakan publikasi yang terencana dan tersturktur untuk masyarakat luas, khususnya para pemangku kepentingan (stakeholders), sebagai sarana menjalin kerjasama dengan institusi atau lembaga-lembaga lain dalam rangka menggalang potensi sumber daya kolektif dalam membangun masyarakat pesisir.
Adapun fungsi dan pentingnya kelembagaan sosial-ekonomi dalam pembangunan masyarakat pesisir adalah, sebagai wadah penampung harapan dan pengelola aspirasi kepentingan pebangunan warga; menggalang seluruh potensi sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakat, sehingga kemampuan kolektif, sumber daya, dan akses masyarakat meningkat; memperkuat solidaritas dan kohesivitas, sehingga kemampuan gotong royong masyarakat meningkat; memperbesar nilai tawar (bergaining position) dan; menumbuhkan tanggung jawab kolektif masyarakat atas pembangunan yang direncanakan.
Dari sekelumit tentang strategi pemberdayaan masyarakat pesisir yang ditawarkan  kiranya perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, terutama pemerintah, demikian juga dengan masyarakat pesisir sendiri. Agar dalam menerapkan berbagai kebijakan, pemerintah terlebih dulu menggunakan pendengaran dengan sebaik-baiknya, bahwa disetiap bibir pantai (masyarakat pesisir) ada tangisan pilu yang tak bersuara, juga tidak ada yang menyuarakan. Akibat luka yang berkepanjangan, suara mereka hilang ditelan riuh-rendahnya gelobang bangsa yang tak berkesudahan. Kiranya riakan itu terhenti dan bahkan berubah menjadi suatu penomena baru, yakni meningkatnya kesejahteraan dan tingkat kehidupan masyarakat pesisir kita sehingga pesisir dan laut bukan lagi belakang rumah tetapi berubah menjadi sesuatu yang indah/ menjadi sumberdaya yang memberikan penghasilan yang melimpah dan indah.